Friday, April 08, 2005

Mendaki gunung = dialog dengan diri sendiri

DIALOG DENGAN DIRI SENDIRI

Mendaki gunung adalah berdialog dengan diri sendiri dan sebagai medianya adalah alam sekitar
(gunung, hutan, cuaca dll).

Kita hidup dalam budaya modern, yang berkiblat pada budaya Barat. Akibatnya adalah kita kehilangan identitas diri, asing dengan diri sendiri. Kita jadi terbiasa menekan emosi, suara hati dan bahkan mimpi-mimpi.

Gunung dari sejak ratusan tahun yang lalu sudah ada di sini dan ratusan tahun yang akan datang akan tetap ada di sini. Sedangkan manusia datang dan pergi; lahir - bayi - remaja - dewasa - tua - mati. Generasi demi generasi manusia timbul dan tenggelam di muka bumi.

Gunung dari dulu begitu dan tidak berubah. Dengan mendaki gunung kita mencoba berdialog dengan diri sendiri, untuk jujur mengakui kelebihan dan kekurangan diri kita sendiri. Gunung tidak berubah, tapi tanggapan kita yang terus berubah dari saat ke saat. Susah senang, sedih gembira, takut, marah dll. Yang menjadi pertanyaan adalah: "Apakah kita menyadari dengan betul-betul adanya emosi-emosi tersebut yang silih berganti berubah?

Kalau kita merasa puas diri dan berkuasa, maka kita akan bilang bahwa kita telah mengalahkan gunung (alam). Kita menaklukkan gunung setelah kita menginjakkan kaki di puncaknya.

Kalau kita merasa lemah dan kecil, maka kita akan merasa rendah diri, inferior di hadapan gunung (alam). Kita dikalahkan oleh gunung.

Bila kita merasa damai dengan diri kita sendiri, maka kita akan menjadi bagian dari gunung (alam). Kita "menyatu" dengan alam.

Banyak sekali emosi dan perasaan kita pada saat melakukan pendakian gunung "membanjir" keluar dengan derasnya. Tidak ada yan baik atau buruk dan benar atau salah dengan segala emosi dan perasaan kita di atas. Perasaan dan emosi kita itu akan silih berganti sesuai dengan respon kita terhadap rangsang dari luar dan kondisi batin kita sendiri.

Yang perlu kita lakukan adalah mencermati dan mengamati semua respon kita terhadap rangsangan dari luar dan kondisi batin yang ada di dalam diri kita. Dan proses pengamatan ini berlangsung terus menerus, dari saat ke saat pada waktu kini (present time).

Dengan melakukan hal ini, maka kita akan menjai peka. Peka terhadap diri sendiri yang ada di dalam maupun peka terhadap semua fenomena luar. Suatu saat kita akan dapat berbicara dengan "raksasa yang ada di dalam diri", suatu sumber daya melimpah yang sebelumnya tidak pernah kita sadari itu ada. "Raksasa yang ada di dalam diri" itulah yang akan menjadi "kompas" sejati dalam hidup kita.

Renungan di Puncak Gunung Gede,
Pendakian dengan kawan2 Natrekk,
Minggu, 3 April 2005 jam 08.25

Djuni Pristiyanto

NB:
Spesial terima kasih pada kawan yg telah kirim SMS berisi :
LIFE is like ROADs we travel... som r smooth, som r rough n som I'd rather 4get. but there's 1 road I WONT REGRET. the road where WE MET n we BCOME friend ... :)

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

yups.. saya setuju banget dengan tulisan ini.
salam kenal mas.

Tuesday, January 10, 2006 9:07:00 AM  
Blogger lelaki_sendiri said...

ya.... saya juga sangat setuju,
cos saya menyadari sang aku pas acara memperingati hari bumi2003 di curug seribu, bogor.

Tuesday, July 31, 2007 2:33:00 AM  

Post a Comment

<< Home