Friday, April 08, 2005

Pak Zulkifi: Tukang sapu di Gunung Gede

Kawan-kawan,

Pada saat ikut pendakian ke Gunung Gede tgl 1 - 3 April 2005 bersama dengan kawan2 Natrekk, saya berjumpa dengan seorang yang sangat luar biasa. Mungkin hanya ada satu diantara seribu orang spt Pak Zulkifi ini. Saya akan ceritakan ttg Pak Zulkifi dalam bentuk narasi orang pertama.

========= narasi Pak Zulkifi mengenai dirinya sendiri ==========

Pak Zulkifi: Tukang sapu di Gunung Gede

Nama saya Pak Zulkifi. Umur 45 tahun. Pekerjaan tukang sapu.
Saya sudah berkeluarga dengan seorang istri dan 3 anak, keluarga saya tinggal bersama mertua saya di Kuningan, Jawa Barat.

Pekerjaan saya adalah sebagai tukang sapu. Saat ini saya sedang membersihkan sampah2 di jalur pendakian Cibodas - Gunung Gede. Jangan salah dimengerti, saya bukan anggota kelompok relawan atau pegawai dan orang upahan Balai Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Dalam bekerja ini tidak ada yang menggaji saya. Saya bekerja atas kemauan dan inisiatif sendiri. Sebelum ini saya pernah menyapu sampah2 dari pantai Labuhan Ratu sampai di Banten.

Pada hari Sabtu, 2 April 2005 di suatu pos pendakian jalur Cibodas - G. Gede saya sempat ngobrol dengan Pak Djuni. Saat itu ada sekelompok pendaki dari kota sedang istirahat melepaskan lelah. Seperti biasanya anak2 dari kota, mereka sibuk dengan dirinya sendiri dan berbicara dengan ribut satu dengan yang lain. Saya amati mereka sambil tersenyum simpul. Lalu ada seorang pendaki yang mendekati dan mengajak ngobrol. Pendaki itu mengaku bernama Pak Djuni, umur 38 thn dan datang dari Mampang Jakarta Selatan. Pak Djuni ini walau baru berumur 38 thn sudah tampak tua dan banyak ubannya. Saya sendiri walau sudah berumur 45 thn, tapi masih tetap sehat lahir batin dan tidak ada uban satu pun di kepala saya. Saya bilang kepada Pak Djuni kalau dia terlalu banyak berpikir dalam bekerja, dan dia mengakui itu dengan jujur.

Demikian ini perbincangan kecil antara saya dengan Pak Djuni :

Pak Djuni : Saya baru kali ini bertemu dg orang semacam Pak Zulkifi ini. Saya kagum dan salut dengan Bapak.

Pak Zulkifi : Ah biasa2 aja kok, tidak ada yg istimewa dlm tindakkan saya. Semua orang dpt mengerjakannya: "menyapu sampah".

Pak Djuni : Apakah Pak Zulkifi pegawai Balai TNGP, sehingga menyapu sampah sampai sejauh ini?

Pak Zulkifi : Bukan! Saya bukan pegawai Taman Nasional dan saya juga bukan anggota kelompok sukarelawan yg ada di G. Gede ini. Saya bekerja tdk ada yg menggaji.

Pak Djuni : Lalu bagaimana Bapak dan keluarga dapat makan dan hidup sehari-hari?

Pak Zulkifi : Tidak usah dikejar, rejeki akan datang dengan sendirinya.

Pak Djuni : Lalu bagaimana kalau ada yang sakit di keluarga?

Pak Zulkifi : Syukur pada Sang Pencipta kalau sampai saat ini saya dan keluarga tetap sehat dan tidak kurang suatu apa. Tidak ada yg perlu dikhwawatirkan.

Pak Djuni : Pak Zulkifi sudah lama jadi tukang sapu di Gunung Gede ini?

Pak Zulkifi : Saya sudah 4 thn jadi tukang sapu di sini. Sebelumnya saya pernah menyapu sampah2 dari Pantai Labuhan Ratu sampai Banten. Mungkin setelah dari G. Gede ini saya tidak tahu akan kemana lagi. Mungkin saja saya akan pergi ke Jakarta dan menyapu sampah di sana.

Pak Djuni : Wah Pak Zulkifi, jangan ke Jakarta Pak. Di sana "rimba"-nya sangat lain dengan rimba di G. Gede ini. Orang2 di Jakarta sudah banyak yg tdk peduli dengan sesamanya, ibaratnya "orang makan orang" di Jakarta.

Pak Zulkifi : Saya tidak takut. Tidak ada yg perlu ditakutkan di dunia ini. Tujuan saya baik dan berguna.

Pak Djuni : Sambil jalan mungkin Pak Zulkifi dapat membersihkan "sampah-sampah di hati manusia". Khan pekerjaannya sama2 membersihkan sampah.

Pak Zulkifi : Pak Djuni ini ada2 saja. Membersihakan "sampah-sampah diri sendiri" saja sudah susah, apa lagi mesti membersihkan "sampah-sampah orang lain" he......he.......he..........

Pak Djuni : Baik Pak Zulkifi. Saya senang berjumpa dg Bapak dan saya sangat salut dg apa2 yg Bapak lakukan. Sampai jumpa lagi, saya dan kawan2 mau melanjutkkan perjalanan naik G. Gede.

Pak Zulkifi : Terima kasih juga Pak Djuni. Selamat jalan dan semoga sampai di tujuan serta selamat tiba di rumah kembali.

Demikian itu hasil percakapan singkat saya dengan Pak Djuni.

Mengapa saya mejadi tukang sapu? Mengapa saya bekerja dg tdk mengharapkan imbalan dari siapa pun juga?

Bagi saya bekerja sebagai tukang sapu ini merupakan bentuk pengabdian saya kepada Yang Memberi Hidup. Hidup ini utk apa? Khan hidup ini hanya "sekedar lewat" saja di dunia. Oleh karena kita hanya "numpang lewat", maka kita perlu berupaya dengan sesungguhnya utk berbuat kebaikkan kepada sesama mahkluk ciptaanNya dan berbakti kepadaNya.

Dalam bekerja sebagai tukang sapu ini majikan saya adalah Dia Yang Memberi Hidup, bukan manusia. Jadi imbalan yg saya peroleh juga berasal dari Dia Yang Memberi Hidup. Saya percaya bahwa rejeki saya dan keluarga saya akan datang dariNya tanpa diminta, sehingga kami semua dpt hidup dg seperlunya. Tentu saja ukuran "hidup dg seperlunya" sangat berbeda dg kebanyakan orang yg biasanya diukur dg materi spt TV, sepeda montor, kulkas, rumah yg bagus, mobil dll. Kita hidup dan masih dpt bernapas sampai detik ini adalah suatu rejeki yg patut disyukuri. Jadi buat apa mengharapkan rejeki yg berlebihan?

===== narasi selesai ======

Ditujukan kepada Pak Zulkifi dengan penuh hormat dan salut,
Ditulis dalam kereta ekonomi yg penuh sesak dalam perjalanan Jakarta - Rangkasbitung,
Selasa, 5 April 2005

Djuni Pristiyanto
Email: senoaji@cbn.net.id

NB :
Narasi di atas saya tulis berdasarkan hasil2 percakapan saya dengan Pak Zulkifi. Sebagian besar isi cerita ini merupakan ringkasan dan interpretasi saya atas hasil2 percakapan tsb. Cerita di atas merupakan sebagian kecil kualitas yg ditunjukkan oleh Pak Zulkifi. Bila ada kesalahan dan ketidakcocokan dg fakta yg sesungguhnya, tanggung jawab ada pundak penulis sepenuhnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home